Dari Bencana Menjadi Kencana

Studi kasus kota pesisir Lymington, Inggris. Tak ada yang menduga bahwa pada mulanya kota ini sering dilanda banjir besar. Namun, berkat penataan kawasan lahan basah yang tepat, Lymington menjadi salah satu kota pesisir tercantik di Inggris yang ramai dikunjungi ribuan turis mancanegara setiap tahunnya.

kota pesisir Lymington
Foto Udara kota pesisir Lymington
Oleh : Ing. Muhammad Gibran, S.T., M.Sc.


Researcher at Matagaruda, BPI LPDP. Master in Engineering in the Coastal EnvironmentCakupan bidang: Offshore, Marine and Maritime Engineering for Oil and Gas Support, River and Estuary, Port and Coastal Zone Development.

Namun siapa sangka pada masa lalunya ternyata Lymington adalah kota yang sering dilanda bencana; pasalnya, posisi yang dilalui sungai besar ini membuat kota ini rawan akan bencana banjir. Dilihat secara topografi, sebagian besar tanah Lymington berada pada elevasi sekitar 2m di atas mean sea level (MSL). Elevasi yang lebih rendah dari 2m (MSL) dikategorikan sebagai wilayah berresiko banjir terutama disekitar sungai dan bibir pantai; dimana pada kondisi ekstrim, ketinggian air dapat merendam penuh rumah penduduk. Apabila hujan terjadi pada saat air laut pasang, maka air muara akan meluap dan merendam seluruh kota. Seperti halnya yang terjadi pada tahun 1909, 1954, 1989, dan 1999, banjir hebat telah menenggelamkan rumah-rumah penduduk, menghancurkan tanggul-tanggul penahan banjir; hal ini bagaimanapun telah menghambat kegiatan perekonomian penduduk. Tak luput juga, ladang-ladang garam serta timbunan limbah (landfill) yang juga ikut terendam air banjir membuat kerugian semakin terasa.

Adanya fenomena sea level rise akan membuat frekuensi gelombang besar dan hujan lebat akan lebih sering terjadi.Kota tua nan cantik Lymington yang terletak di pesisir Hampshire ini dilalui oleh Sungai Lymington yang mengalir dari tengah district New Forest menuju Solent Water, British Channel. Daerah ini sangat terkenal akan industri pariwisata, biota pesisirnya yang indah, industri garam tradisional, desa wisata, aneka kuliner lokal, serta peninggalan arsitektur masa Victoria dan Georgia. Posisinya yang strategis telah menjadikan kota pesisir ini ramai dilalui yacht, boat, dan kapal-kapal besar; tak heran bahwa bisnis marina dan perkapalan (yachting centre) di muara Lymington sangat berkembang pesat hingga akhirnya kota ini menjadi spot favorit para wisatawan Eropa yang hobi berlayar. Sebuah kawasan unik nan kaya khasanah membuat kota ini bak kencana (emas) di Inggris bagian selatan.

Merespon tantangan alam ini, pemerintah Kota Lymington telah bekerjasama dengan berbagai instansi seperti akademisi-akademisi yang ahli dibidangnya, para investor atau perbankan sebagai sumber pendanaan, environmental agency, serta komunitas masyarakat setempat untuk mencari solusi terbaik. Adapun tahap pencarian solusi dapat dilihat pada skema berikut.

Kejadian – pengumpulan data – pemetaan banjir – kalkulasi volume banjir – klasifikasi penyebab banjir – solusi tepat sasaran

Kenjadian banjir pesisir ini merupakan fenomena alam yang disebabkan oleh hujan lebat, air pasang, hempasan gelombang, ataupun kombinasi dari ketiganya. Pendokumentasian fakta sejarah-kejadian sangatlah penting karena merupakan kunci untuk penentuan langkah penanggulangan. Pengumpulan data melingkupi data hujan, topografi, foto udara, lokasi kejadian, data penggunaan lahan, data sosial-kependudukan, dll.

Pemetaan banjir diperlukan untuk mengetahui luas dan kedalaman genangan banjir; serta, memprediksi lokasi lain yang berpotensi terjadi banjir pada kondisi ekstrim. Selain itu pemetaan banjir dapat berguna untuk klasifikasi wilayah, seperti: kawasan hunian, area industri, daerah lindung biota, dll. Pementaan banjir dapat dilakukan dengan berbagai teknologi terkini seperti penggunaan perangkat lunak ArcGIS, pengkajian foto udara (aerial image), interpretasi data satelit, dsb.

Kalkulasi dan prediksi volume banjir dapat dilakukan dengan program komputer HEC-RAS dan MIKE by DHI. Klasifikasi penyebab banjir dapat beraneka ragam, dari faktor topografi, ketinggian air tanah, curah hujan, ketinggian gelombang pasang, ataupun sistem drainasi yang tidak bekerja dengan baik. Dengan memahami semua hal tersebut, maka solusi yang diambil merupakan solusi yang sustainable, efisien dan tepat sasaran.

Bersambung

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*