Jaga Suplai, Perlu Konservasi

‘Eksploitasi’ air yang kian meningkat, tetap harus menjaga kelangsungan suplai di masa mendatang. Penjagaan terhadap ketersediaan air bersih sangat dibutuhkan. Jangan sampai malah hilang dan tidak ada air lagi. Sebab, anak cucu masih butuh air untuk kehidupan di masa yang akan datang. Dengan demikian, perlu konservasi air, agar suplai air bersih tetap terjaga.

bendungan

Menurut Pakar Bidang Sumber Daya Air (SDA) Transformasi Cita Infrastruktur (TCI) Ir Tribudi Utama MT, kebutuhan air bersih di DIY terus meningkat seiring penambahan jumlah penduduk dan pengembangan wilayah industri. Jika hanya mengandalkan sumber mata air dari lereng Merapi, kebutuhan air bersih di DIY tidak akan mencukupi.


Kebutuhan air bersih setiap orang ratarata 60 liter/hari. Jumlah itu akan meningkat seiring kemajuan dari wilayahnya.


yang tinggi, kebutuhan air bersih per-orang bisa mencapai 100-120 liter/hari. “Untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang terus meningkat diperlukan sumber air lain, selain mata air di lereng Merapi,” kata Tribudi kepada KR di Kampus UGM, Minggu (20/3).

Tribudi menawarkan beberapa alternatif pemenuhan air bersih. Pertama, membangun tampungan-tampungan air sepanjang selokan Mataram (long storage) supaya air meresap ke dalam tanah, menjadi tabungan air. Kedua, memperbanyak membangun embung- embung gali atau alami di daerah atas (lereng Merapi) sehingga menjadi semacam menara air yang akan menyuplai kebutuhan air bersih di wilayah kota. Ketiga, menahan air sungai agar tidak langsung terbuang ke laut dengan membangun ’Dam’ di aliran-aliran sungai yang membelah DIY. Tak kalah penting dengan memperbanyak sumursumur resapan di permukiman warga.

“Upaya ini harus terintegrasi untuk menjaga sumber air bersih di DIY terjaga,” katanya.

Terpisah Wakil Rektor UGM yang juga Ahli Sumber Daya Air Prof Dr Ir Budi Wignyosukarto mengatakan, dibatalkannya Undang-Undang Nomor 7 tahun 2004 tentang SDA oleh Mahkamah Konstitusi, memberi kesempatan memperbaiki tata kelola air dengan hadirnya negara. Saat ini telah dibentuk tim yang sedang merumuskan rancangan UU SDA yang baru. Dirinya menekankan perlunya pengelolaan SDA secara terpadu mulai hulu hingga hilir, dan memastikan terpenuhinya fungsi air secara sosial, lingkungan dan ekonomi. “Untuk memastikan terpenuhinya fungsi air perlu hadirnya negara dalam pengelolaan,” kata Budi.

UU SDA yang baru diharapkan menghilangkan privatisasi SDA oleh swasta. Dengan demikian sumber air bersih tetap dikuasai negara, sedangkan swasta hanya diberi izin pemanfaatannya dengan kuota yang telah dibatasi.

“Posisi swasta hanya sebagai operator dalam mendistribusikan air bersih, sedangkan penguasaan SDA tetap di tangan pemerintah,” katanya.

Budi juga sependapat bahwa kebutuhan air bersih di DIY tidak akan tercukupi jika hanya mengandalkan sumber air di lereng Merapi. Alternatif pemenuhannya bisa diambilkan dari air aliran sungai Progo yang berhulu di Jawa Tengah.

Sumber : KR, InfoJogja

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*