Kekayaan Yang Tak Ternilai

Mengenal Potensi Kemaritiman dan Pantai Indonesia

Bagi sebagian orang, muara, pantai, dan laut dianggap sebagai ancaman karena wilayah tersebut berresiko tinggi terhadap bencana, seperti: tsunami, banjir, gerusan, dan penumpukan sedimentasi. NAMUN, hal tersebut tergantung dari sudut-pandang dan perlakuan manusia terhadap lingkungannya. Faktanya, dibalik resiko tersebut terdapat banyak potensi jika kita mempunyai kesadaran terhadap kelautan. Oleh karenanya, sangat patut kiranya kita belajar bersama mengenai potensi kemaritiman agar kita dapat mengambil manfaat dengan tidak merusak alam sekitarnya, serta agar kekayaan laut Indonesia tidak dimanfaatkan oleh bangsa lain.

kekayaan-indo1

Oleh : Ing. Muhammad Gibran, S.T., M.Sc.


Researcher at Matagaruda, BPI LPDP. Master in Engineering in the Coastal EnvironmentCakupan bidang: Offshore, Marine and Maritime Engineering for Oil and Gas Support, River and Estuary, Port and Coastal Zone Development.

Setelah Kerajaan Belanda mengklaim Oost Indie (Hindia Timur atau Indonesia) sebagai wilayah koloninya, hal yang pertama dilakukan oleh Pemerintah adalah memperkuat armada laut, menetapkan perbatasan maritim dan menjaganya dengan ketat di berbagai penjuru. Mengapa maritim menjadi prioritas utama? Tujuannya hanya satu, yaitu agar pemerintah Inggris, Perancis, dan Spanyol tidak memasuki wilayah Indonesia lalu menyadari betapa kaya tanah dan isi lautan kita.

Saat Dutch Royal Family pecah dari kerajaan Belgium dan berdiri sendiri pada tahun 1815, dikatakan bahwa sebagian besar kekayaannya berasal dari Hindia Timur; sampai-sampai dalam koran De Groene Amsterdamer yang terbit pada tanggal 14 Oktober 1906 diilustrasikan bahwa Hindia Timur adalah sumber kemakmuran yang tak ternilai harganya.

Saya sendiri pernah berdiskusi dengan salah satu engineer Belanda sewaktu saya sekolah di Groningen dulu, beliau menjelaskan bahwa semua ballast kayu yang digunakan untuk bantalan rel kereta api di Belanda berasal dari Kalimantan dan Sulawesi yang secara massif dikirim pada era tahun 1920an. Tambahnya, gedung-gedung megah hingga pembuatan dam dan polder semuanya didanai semata-mata dari pengelolaan dan ekspor hasil tani Indonesia. Hingga akhir tahun 1940an, Gubernur Belanda kala itu mendapatkan pemasukan yang sangat besar dengan memperluas Industri maritim, seperti: offshore industries (eksplorasi minyak dan gas bumi), industri pelabuhan dan perkapalan, industri perikanan, dan industri kilang di zona pesisir. Sejak saat itu, saya semakin tertarik untuk berdiskusi dengan para senior di Belanda, dan sejak saat itu pula kekaguman saya terhadap Indonesia mulai terpupuk.

Lalu seberapa kaya Indonesia? Tulisan ini hanya mengulas potensi kekayaan dan isu-isu seputar dunia maritim Indonesia saja dan alasan mengapa kita harus memperhatikan laut dan pantai. Dua per tiga wilayah Indonesia adalah lautan, dan semua provinsi di Indonesia memiliki lahan yang berbatasan langsung dengan laut (wilayah pesisir). Panjang garis pantai di Indonesia jika di total dapat mencapai panjang lebih dari 80 ribu km (dua kali lipat panjang lingkar katulistiwa bumi); namun kekayaan maritim kita belum termanfaatkan dengan baik.

Banyak dari kita belum menyadari akan potensi besar yang kita miliki karena pelajaran mengenai dunia coastal environment, marine dan maritim hanya mendapatkan porsi yang sedikit di bangku sekolah. Selama ini kita hanya menitikberatkan potensi atau pembangunan yang berada di darat saja; ini adalah sesuatu yang pincang. Selayaknya, dunia maritim Indonesia perlu mendapatkan porsi lebih dalam bangku sekolah/kuliah; sebab, jika wilayah kelautan dan pesisir Indonesia dikelola dengan baik akan memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan untuk masyarakat. Bahkan lebih hebatnya lagi, pemerintah Indonesia tidak perlu lagi memungut pajak dari rakyatnya sebagai pemasukan negara; hanya dengan mengandalkan laut saja, Indonesia bisa sangat makmur.

Berikut ini sebagian kecil potensi kelautan di Indonesia, diantaranya adalah sebagai berikut:


  • 4.	Tempat pembuangan akhir (endapan CO2 dan limbah lain
    4. Tempat pembuangan akhir (endapan CO2 dan limbah lain
    Dasar laut memegang peranan penting dalam siklus karbon (carbon dynamics) terutama pada proses pengendapan karbon dioksida (CO2). Kondisi karbon pada suatu masa dapat diteliti kembali dengan mengambil sample deposit karbon dari dasar laut.
  • 3.	Transportasi laut
    3. Transportasi laut
    Laut merupakan sarana transportasi air yang paling efficient untuk mengangkut barang dan manusia secara masif. Dengan kapal, biaya pengangkutan biaya pengangkutan antar pulau menjadi sangat hemat; jauh lebih hemat daripada pesawat, kereta api, atau kendaraan darat yang menyeberang melalui tunnel atau jembatan. Sedangkan pantai atau sungai biasanya dimanfaatkan untuk berlabuhnya kapal penganggkut; dimana semua aktifitas pelabuhan akan bernilai ekonomis dan menjadikan multiplier effects bagi masyarakat disekitarnya.
  • 2.	Energi dan eksplorasi
    2. Energi dan eksplorasi
    Di dasar laut terdapat sumber energi utama untuk keberlangsungan aktifitas manusia; seperti minyak dan gas. Di Indonesia selama ini tidak kurang dari 14 ribu sumur minyak dan gas di Indonesia yang telah termanfaatkan yang sebagian besar berada di lepas pantai. Beberapa perusahaan asing bermula dari kegiatan eksplorasi dan pengeboran minyak di Indonesia seperti Inpex Japan, Royal Dutch Shell, dsb. Selain itu wilayah tepian laut juga dapat dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur pembangkit listrik tenaga gelombang dan angin seperti halnya di Eropa.
  • 1.	Sumber tambang tertentu
    1. Sumber tambang tertentu
    Di dasar laut, terutama pada lereng kontinen (continental shelf) ditemukan berbagai sumber mineral dan logam seperti tembaga, pasir silika, hingga emas yang terbawa dari aliran sungai atau aktifitas tektonik dari perut bumi. Jumlahnya bervariasi dari mulai sebaran yang sifatnya random sampai pada deposit masif berupa lapisan geologi.

Pada uraian diatas telah disampaikan mengenai sebagian potensi laut dan pantai secara umum. Artikel ini dibuat sebagai usulan kepada pemerintah agar dapat memanfaatkan potensi laut dengan lebih maksimal; dan juga kepada Kementerian Pendidikan agar dalam menentukan kurikulum mata pelajaran di sekolah, kedepannya dapat memasukkan materi mengenai dunia maritim dan pesisir Indonesia dengan bobot paling tidak 50% dari total semua mata pelajaran. Hal ini diharapkan agar generasi mendatang dapat mengolah potensi yang luar biasa besarnya dari dunia maritim Indonesia, dan kelak menjadikan Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Namun sebaliknya, kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pantai dan laut dapat berdampak pada rusaknya lingkungan ekosistem pesisir. Para pengembang pantai dan pelaku bisnis offshore menjadi kurang aware tentang sistem alam yang terjadi di laut; akibatnya semakin banyak kerusakan pantai seperti erosi dan sedimentasi yang berlebihan, dan juga kurangnya proteksi pantai terhadap fenomena tsunami dan banjir pesisir yang tentunya sangat merugikan negara

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*