Penetrasi Tsunami Melalui Sungai

Dahsyatnya bencana tsunami bak kiamat kecil yang melanda dunia. Kejadian tsunami di Aceh, tahun 2004 lalu, umpanya. Hanya hitungan menit Serambi Mekah lantak ditelan gelombang. Sekitar 200 ribu orang meregang nyawa, ratusan ribu rumah hancur berantakan.

hutan-mangrove

Sumber Foto : www.kebumenkab.go.id


Oleh :

Dr.-Ing. Widjokongko


Tak hanya di Aceh, beberapa Negara lain juga mengalami kerusakan dan rasa pilu yang sama akibat kehilangan sanak saudara. Tsunami memang bahaya yang menakutkan.

Belajar dari kejadian di atas, Daerah Istimewa Yogyakarta harus mengantisipasi jika kejadian yang sama terjadi di daerah ini. Betapa tidak, subduksi yang terjadi di di Selatan Jawa sangat berpotensi mengakibatkan gempa bumi yang diakhiri dengan tsunami. Tsunami akibat gempa bumi 1994 dan 2006 di beberapatempat di Selatan Pulau Jawa, member pelajaran kepada kita, bahwa ancaman itu nyata di Pantai Selatan Jawa.

Belajar dari kejadian tsunami yang pernah terjadi dan hasil dari simulasi model, ada beberapa realita yang terjadi. Diantaranya, bahwa pantai dengan topografi  landai dan formasi tanjung, serta daerah sekitar muara sungai hingga kea rah hulu dan bantarannya, merupakan daerah yang paling rawan terhadap landaan tsunami. Gelombang besar air akibat tsunami justru bisa menerabas kea rah daratan yang lebih dalam lagi melalui alur sungai ini. Bahkan sungai dan daerah bantarannya, secara umum menjadi daerah  dengan penetrasi dan landaan tsunami lebih jauh ke daratan, 2 sampai 3 kali disbanding pantai di sekitarnya. Karena itu harus ada upaya untuk mengantisipasinya.

Adanya vegetasi pantai, termasuk mangrove, pada kondisi tertentu cukup efektif mereduksi tinggi gelombang tsunami, dengan klasifikasi sedang, hingga 20 sampai 30 %. Pada vegetasi yang lebih lebar (>300 m), efektifitasnya berdasar empiris dan percobaan laboratorium bisa meningkat hingga 50 %.

Mengingat ancaman yang mungkin terjadi, maka penanaman vegetasi pantai (mangrove) di bantaran dan sekitar muara/sungai pesisir akan mempunyai nilai yang sangat positif dalam mengurangi dampak tsunami dan membantu program mitigasi bencana pesisir. Karena itu masyarakat harus didorong untuk sadar ikut menanam vegetasi pantai di kawaan tersebut.


Widjo Kongko lahir di Banyumas Juli 1967. Pendidikan hingga SMA ditamatkan di Purwokerto. Meraih Insinyur Teknik Sipil Hidro di UGM tahun 1992 dan Master Teknik (M.Eng.) bidang Teknik Sipil dan Lingkungan di Universitas Iwate Jepang tahun 2004. Tahun 2011 menyelesaikan disertasi doktoral teknik (Dr.-Ing.) di Universitas Leibniz Hannover Jerman pada departemen Teknik Sipil dan Geodesi dengan konsentrasi studi di masalah kegempaan dan tsunami.

Pengabdiannya di BPPT dari 1997 hingga sekarang, sebagai perekayasa di Laboratorium Teknik Pantai BPPT di Yogyakarta. Keahliannya di bidang survei hidro-oceanografi. Widjo sudah menerbitkan buku dan lebih dari 30 publikasi di jurnal internasional.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*