Skenario Kondisi Wilayah Sungai

Usulan implementasi dalam perancangan

(Oleh: Tribudi Utama)

Skenario Kondisi Wilayah Sungai merupakan gabungan dari kondisi perekonomian, kondisi perubahan iklim, dan kondisi perubahan politik, sebagaimana dijelaskan pada Permen PUPR 10/2015  tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan Air dan Tata Pengairan, pada Lamnpiran 1 Bab 2, butir 2.6.

1Gabungan dari ketiga kondisi tersebut secara ringkas menghasilkan skenario WS Rendah, Sedang, dan Tinggi. Selanjutnya berdasar skenario kondisi WS ini ditentukan tujuan pengelolaan SDA yang direncanakan akan dicapai dengan serangkaian upaya di dalam alternatif pilihan strategi. Penyusunan alternatif pilihan strategi didasarkan pada beberapa pertimbangan, antara lain kondisi neraca air pada skenario kondisi WS terkait. Di dalam diskusi-diskusi tentang Pola PSDA maupun Rencana PSDA mengemuka pendapat bahwa skenario kondsi WS sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, dimana skenario rendah apabila pertumbuhan ekonomi kurang dari 4,5%, skenario sedang 4,5% – 6%, dan skenario 2tinggi jika pertumbuhan ekonomi lebih dari 6%. Namun sayangnya  tidak ada satupun referensi baik dalam Permen PUPR tersebut maupun SNI dan lainnya yang dapat menjelaskan bagaimana  implementasi dari kriteria angka-angka  tersebut dalam perancangan.

Khususnya di dalam upaya pemenuhan kebutuhan air pada aspek pendayagunaan SDA, seberapa target yang harus dipenuhi ketika skenario rendah, seberapa jika skenario sedang, dan seberapa jika skenario tinggi. Dalam hal ini perancang memerlukan target yang terukur secara kuantitatif, sehingga jelas rangkaian upaya apa saja dengan kapasitas berapa yang diperlukan untuk mencapai target tertentu.

Dalam Permen PUPR 10/2015,  Lampiran 1, Bab 2, butir 2.1, memberikan arahan bahwa Penyusunan Pola PSDA pada WS memperhatikan kebijakan pembangunan provinsi at3au kabupaten/kota. Kebijkan daerah ini tertuang pada RPJPD, RPJMD, dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sedangkan potret kondisi daerah tercermin dari data BPS, yaitu provinsi atau kabupaten/kota dalam angka. Mempertibangkan beberapa hal tersebut diatas diusulkan serangkaian metode hitungan khususnya untuk memperoleh besaran kebutuhan air Rumah tangga Kota dan Industrial (RKI), sehingga dapat ditentukan target pemenuhannya pada setiap skenario kondisi WS. Untuk memudahkan pembahasan dalam paper ini diambil studi kasus kota Batam.

4

Kebijakan suplai air mengikuti arahan rencana tata ruang wilayah, khususnya arahan yang tertuang pada rencana pola ruang masing masing kabupaten/ kota.

RTRW adalah produk reg5ulasi yang mengikat dalam rangka pengembangan wilayah, sehingga seluruh stake holder harus berupaya mewujudkan amanah regulasi tersebut, termasuk didalamnya kebijakan penyediaan air untuk mendukung pengembangan wilayah sebagaimana tertuang dalam RTRW. Usulan ini didasarkan pada pemikiran bahwa skenario kondisi WS (yang merupakan kombinasi berbagai faktor, salah satunya faktor kondisi perekonomian) dimasa mendatang menggambarkan kemampuan suatu daerah untuk mengembangkan dan mencukupi kebutuhan airnya. Dari series data BPS bisa dihitung angka pertumbuhan penduduk, pertumbuhan dan komposisi PDRB per sektor (primer, sekunder, dan tersier).

6

7

Ketika skenario rendah, bagaimanapun  harus bisa memenuhi kebutuhan dasar dari penduduk dengan segala aspek yang melekat pada pertumbuhan penduduk tersebut. Asumsi dasar perhitungan kebutuhan air untuk Rumah tangga (R) dari jumlah penduduk dan pertumbuhannya, sedangkan Kota (K) dan Industri (I) merupakan persen (%) dari R, dengan proyeksi sesuai dengan pertumbuhan penduduk. Jika ada data untuk kebutuhan nyata K dan I tentu lebih baik, dan hitungan berdasarkan data tersebut, sedangkan proyeksi mengikuti pertumbuhan penduduk.

Untuk target pemenuhan kebutuhan air RKI pada skenario sedang (Versi 2), asumsi dasar perhitungan R sama dengan versi 1(skenario rendah). Dasar perhitungan K merupakan % tertentu dari R , sama dengan versi 1 namun proyeksi pertumbuhan mengikuti pertumbuhan PDRB sektor tersier. Sedangkan I juga % tertentu dari R dengan proyeksi mengikuti pertumbuhan PDRB sektor sekunder. Target ini dibuat dengan dasar pemikiran bahwa pertumbuhan ekonomi yang saat ini berlangsung harus tetap berjalan dengan baik ketika skenario kondisi WS diasumsikan sedang. Sehingga butuh dukungan dari sektor SDA dalam penyediaan air minimal sesuai skenario tersebut.

Untuk skenario tinggi, target kebutuhan air RKI sesuai dengan versi 3. Dasar perhitungan kebutuhan R sebagaimana versi 1 dan versi 2. Target pemenuhan kebutuhan K sama dengan versi 2 yaitu % tertentu dari R dengan proyeksi mengikuti pertumbuhan PDRB sektor tersier. Sedangkan target pemenuhan kebutuhan I sebagaimana versi 2 dengan tambahan kebutuhan air khusus untuk kawasan industri dan kawasan wisata, juga kawasan khusus yang lain (contoh kawasan militer di Natuna) sesuai pola ruang dalam RTRW yg berlaku, proyeksi mengikuti kurva normal atau sesuai skenario daerah ybs sampai tercapai target 100% pada akhir periode perencanaan atau akhir periode berakhirnya RTRW.

Melihat komposisi kebutuhan air RKI hasil perhitungan dengan asumsi tersebut, nampak bahwa kebutuhan air Rumah tangga (R) sama untuk ketiga versi, 8sedangkan kebutuhan air Kota (K) nominalnya sama antara versi 2 dan versi 3. Secara logika mestinya kebutuhan R untuk versi 3 lebih besar dari versi 2, demikian pula dengan kebutuhan K versi 3 semestinya lebih besar dari versi 2. Hal ini bisa terjadi karena dengan dibukanya kawasan industri dan kawasan khusus yang lain, akan menarik migrasi penduduk ke kawasan tersebut, dan sekaligus memicu kegiatan bisnis dan zona bangkitan yang lain. Artinya target pemenuhan kebutuhan air yang harus diperhitungkan juga harus mengantisipasi pertumbuhan yang tidak normal tersebut, baik pertumbuhan penduduknya akibat pengembangan wilayah maupun pertumbuhan PDRB karena tumbuh kembangnya zona perkotaan. Lalu seberapa tambahan target yang harus dipenuhi ?. Hal ini akan menjadi bahan diskusi yang menarik. Berikut contoh grafik tangga upaya pemenuhan kebutuhan air untuk Kota Batam

9

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*