TCI Paparkan 6 Skenario Mitigasi Tsunami untuk Bandara NYIA

Untitled-1Sutrisno, 38 tahun, terlihat cemas ketika dia menyaksikan rekaman video yang menggambarkan terjadinya tsunami di Bandar Udara (Bandara) Sendai di Natori, Perfectur Miyagi, Jepang. Gelombang tsunami  yang terjadi 11 Maret 2011 itu, tanpa ampun memporak porandakan bandara dengan bangunan yang cukup modern itu. “Padahal jarak Bandara Sendai dengan bibir pantai sejauh 1 kilometer,” katanya. Laki-laki yang kerap berpergian dengan pesawat terbang dari Yogyakarta ke Jakarta ini khawatir dengan rencana Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA), di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Apalagi rencananya jarak Bandara NYIA ke tepi pantai hanya 300 meter.

“Apakah sudah dipikirkan mitigasi dari ancaman tsunami yang mungkin terjadi?” imbuhnya dengan wajah risau. Memang jika dilihat dari potensi tsunami yang mungkin timbul, wilayah pantai Utara Pulau Jawa termasuk yang paling mengkhawatirkan. Karena sangat dekat dengan pertemuan dua lempeng besar di bumi ini, Lempeng Euroasia dan Australia.

Kondisi rencana tapak bandara yang rawan tsunami seperti ini, membuat Lembaga Kajian Transformasi Cita Infrastruktur (TCI) merasa perlu untuk melakukan kajian mengenai mitigasi semacam apa yang perlu dilakukan di lokasi tersebut. Menurut hasil kajian empiris, potensi bencana gempa bumi dan tsunami di subduksi selatan Jawa cukup tinggi dengan magnitudo bisa lebih besar dari 8,2 Mw. Ini tentu mengancam daerah Pantai Selatan Jawa, termasuk di lokasi rencana tapak bandara baru.

Dengan potensi sebesar itu maka berdasar simulasi model, gempa bumi yang ditimbulkannya bisa mengakibatkan tsunami hingga lebih dari 31 meter di Pantai Selatan (Pansela) Jawa, dan lebih dari 19 meter di Pansela DIY  (Bantul-Kulonprogo). Ini artinya  rencana tapak Bandara Baru di Kulonprogo DIY sangat rawan terhadap ancaman tsunami setinggi lebih dari 10 meter, dengan penetrasi bisa mencapai hingga 2 kilometer. Potensi bahaya ini perlu dikelola dalam rangka pengurangan risiko bencana. Mengingat bandara dan sekitarnya adalah pusat konsentrasi masa, baik penumpang maupun aktifitas bangkitannya.

Berdasarkan potensi ancaman seperti itu, TCI melakukan simulasi mitigasi yang mungkin dilakukan. Dengan memanfaatkan gumuk pasir dan tanaman vegetasi,  dibuat enam skenario dalam mengantisipasi terjadinya tsunami. Hasil simulasi tersebut menunjukkan bahwa desain dan kombinasi yang tepat mampu mereduksi risiko secara signifikan.

Simulasi yang dilakukan, jika terjadi tsunami di Pantai selatan DIY  dengan ketinggian air mencapai 10 meter maka air akan menggenangi sekitar 304,9 hektar lahan. Ini artinya keseluruhan Bandara akan digenangi air. Kondisi seperti ini terjadi jika topografi yang ada tidak diubah dan sabuk hijau masih seperti keadaan sekarang. Dalam simulasi, keadaan semacam  ini digambarkan sebagai skenario satu.

Dalam skenario dua jika topografi tidak diubah sementara sabuk hijau dibuat sepanjang 20 meter dari bibir pantai, maka luas daerah yang tergenang berkurang 28,4 %. Selanjutnya dibuat beberapa skenario lainnya. Dari beberapa opsi pilihan, skenario lima adalah pilhan yang pas untuk mengamankan Bandara NYIA. Dimana dalam skenario ini, topografi diubah dengan formasi gumuk pasir diikuti galian dan selanjutnya timbunan, dimana sabuk hijau juga dibuat sepanjang 50 meter dari bibir pantai. Dengan skenario ini luas rendaman yang tersisa hanya 3,5 hektar (1,1%) dari semula 304,9 hektar. Hal ini menunjukan bahwa pengurangan risiko bencana tsunami dapat dikelola dengan baik melalui struktur tambahan, yang sesuai dengan  desain bandara yang sudah ada. Dengan catatan simulasi ini masih merupakan desain tipikal yang perlu dicermati lebih detail dengan data yang akurat.

Hasil kajian TCI ini telah dipaparkan kepada pihak yang berkepentingan di Angkasa Pura I (AP I)  pada 8 Februari 2017. Tim TCI yang terdiri dari Tri Budi Utama, Sawariyanto, Joko Sumiyanto, Haryo Dwito Armono, Heri Budianto dan Aan Supriadi, mempresentasikan hasil kajian di depan pejabat AP I yang dipimpin oleh Polana Banguningsih Pramesti, Direktur Teknik.  Menurut Polana, perlu dipikirkan bagaimana mitigasi tsunami di rencana bandara baru  Kulonpogo. “Mitigasi Tsunami harus dilakukan sesuai dengan amanat undang-undang Nomor 24 Tahun 2007,” tambah Tri Budi Utama, yang juga Ketua Umum TCI.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*